Bingkisan Ramadhan

Posted: July 17, 2014 in rahasia

Dinginnya malam tak mengurungkan niatku tuk membagikan sahur di jalanan bersamanya. Jakal – Bunderan UGM – Gramedia – Jln Diponegoro – Kotabaru – Kridosono – Lempuyangan – Gayam – Kusumanegara. Berakhirlah “SOTR” kita kemarin.

Ya karena memang bukan tentang “SOTR” yang pengen aku tulis disini, tapi tentang hal setelahnya. Hal yang membuatku bertanya-tanya, tentang dirinya. Iya, masih tentang dirinya. “Belum kelar juga kau menceritakan dirinya?” | Belum 😦

“SOTR” kita terlaksana dengan lancar. Jam 3:30 aku dan dia pun pergi ke sebuah warung burjo untuk sahur disana. Singkat cerita, sehabis adzan subuh dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya….

Dia mengeluarkan bungkusan bengbeng, dan bilang “itu buat kamu”…
“apa ini? aku kan gak makan beng-beng.”
“buka aja, itu bukan beng-beng kok.”
Dan ternyata benar, bungkusan beng-beng itu tak berisi beng-beng, melainkan sajadah merah, gantungan kunci berbentuk gitar dengan lambang Manchester United, dan segulung kertas dengan ukuran 14,7 x 11,8 cm.
Dan aku pun mulai membuka gulungan kertas itu, ku lihat didalamnya ada tulisan dengan tinta hitam, lalu kubaca dengan perlahan.
…………bla bla bla…………
Lalu aku bertanya padanya, “ini maksudnya apa?”
“Ya seperti itu, gak ada maksud apa-apa. Kalo mau diterima ya sukur, enggak ya gak papa” jawabnya.
Lalu ku terka apa yang dia maksud dengan memberiku bingkisan yang berisikan sajadah. Kalo tentang gantungan kunci sih emang iya aku suka klub bola asal Inggris, Manchester United. Tapi kalo tentang sajadah itu? Apakah dia pernah membaca tulisanku tentang “Filosofi Sajadah” ataukah tentang hal lain?
Jika memang seperti hal yang aku tulis dalam Filosofi Sajadah, maka dapat dipastikan aku dan dia sampai pada akhirnya adalah seorang teman 🙂

AKU HANYA BAYANG. ADA DAN TIADA

Posted: July 8, 2014 in bebas

Ku lihat malam ini dia begitu bersedih.

Air matanya menetes dibalik kacamata bening yang selalu dia kenakan.

Mungkin hatinya tak kuat menahan segala beban yang selama ini dia simpan.

Untuk siapa kau teteskan airmata itu, ………?

——————————————————————————————–

Aku hanya sebuah bayang, ada namun tak pernah dianggap.

Jemari-jemariku tak pernah bisa menyentuhnya, membangunkannya dari kesedihan.

Entah apa yang ada dihatinya, tak pernah mampu ku tuk menerka.

Neraca hatiku mulai tak seimbang, berat disisi kesadaran bukan perasaan.

Gelap malam mengiringi menghilangnya diriku, sebuah bayang.

hbd

Image  —  Posted: June 27, 2014 in Uncategorized

TERIMA KASIH TUHAN

Posted: June 21, 2014 in bebas

Terima kasih Tuhan, Engkau telah berikan ku teman-teman seperti mereka.

Mereka yang yang menganggapku ada, mereka yang menganggapku manusia, mereka yang selalu mendengar cerita-cerita usangku, mereka yang tak lelah memberiku nasehat.

Semoga ku tak membuat kalian kecewa.

Terima kasih untuk kalian juga, teman.

Sore Itu part.2

Posted: June 20, 2014 in bebas

“Kriiing….” suara handphone ku berbunyi membangunkanku dari tidur.

“hallo”, jawabku dengan mata yang masih tertutup.

Terdengar suara seorang wanita yang tak asing lagi, “sekarang sombong banget, gak pernah hubungin aku lagi”.

Aku pun terkaget dan segera membuka mata. Aku langsung melihat layar handphone ku, terpampang sebuah nama “Adin” seorang wanita yang aku sayang, yang terakhir kita bertemu beberapa bulan lalu di sore itu. Senyumku pun mulai berkembang, mengawali pagi yang ku yakin indah. Ku lanjutkan pembicaraanku dengannya.

“Kok malah diem aja sih?” tanyanya kepadaku.

“Enggak kok, aku cuma kaget aja tumben kamu telpon aku.” jawabku.

“Abis kamu sekarang sombong sih, udah punya pacar baru ya?” tanyanya seakan mengolok diriku.

“Pacar baru? Pacarku kan kamu…hahahha.” jawabku dengan nada bercanda. Walaupun memang ku ingin dia bisa menjadi milikku.

Selang beberapa waktu, pembicaraan kita pun terhenti setelah aku mengajaknya bertemu di sebuah cafe tempat kita terakhir bertemu.

Sore itu ku pacu motorku dengan cepat, karena aku tak sabar ingin segera bertemu dengannya. Sesampai di cafe tempat kita janjian untuk bertemu, ku parkir motorku dan terburu masuk ke dalam. Ternyata masih sepi, ku tengok kanan dan kiri tak ku lihat dirinya berada disana. Aku berjalan menuju kursi paling pojok, tempat kesukaanku. Ku pesan secangkir kopi hitam dan ku keluarkan handphone tuk menghubunginya.

“Jadi gak? Aku udah nyampe nih” sms ku.

“Iya jadi, tunggu bentar ya aku kesana” jawaban sms darinya.

Aku menunggunya sambil menikmati kopi hitam yang masih panas, kopi kesukaanku. Ku sulut rokok kretekku dan tiba-tiba semua kisah kenangan masa lalu muncul di dalam pikiranku. Kenangan dimana dulu, bertahun-tahun yang lalu aku dan dirinya sering menghabiskan malam ditempat itu. Rambut panjang yang agak kemerahan, mata panda dibalik kacamata, dan bibir manyunnya. Semua kenangan itu membuatku tersenyum.

Tak terasa 30 menit telah berlalu, terlihat seorang wanita datang menuju arahku.

“hay, maaf ya lama datangnya” sapanya padaku.

“gak papa kok, baru juga setengah jam. Gak lama kok” jawabku.

Kemudian dia duduk didepanku. Ku pandang wajahnya dengan senyuman. Senyum yang membuat hatiku bahagia.

“Adin, kabarmu gimana? Baik-baik saja kan?” tanyaku mengawali pembicaraan.

“Baik kok, kamu sendiri gimana?” balasnya sembari tersenyum kecil.

“Aku juga baik-baik saja kok. Kok ku lihat ada yang berbeda ya dengan dirimu?”

“Beda? Apanya yang beda?”

“Kemana rambut panjangmu yang kemerahan itu? Kemana mata pandamu?” tanyaku karena memang tak kulihat lagi rambut dan kantung matanya yang seperti dulu.

“Hahahhaa…bisa aja sih kamu nih, sampai perhatiin aku gitu. Kemarin aku sakit, lalu aku potong rambutku. Dan sekarang aku udah jarang begadang loh, jadi ya good bye mata panda…hehehe” jawabnya.

“Hah, sakit apa?” tanyaku terkaget.

“Cuma sakit biasa kok, maag ku kambuh. Mungkin karena aku telat makan”.

“Kamu ini, dari dulu gak berubah ya. Selalu tak teratur jam makannya, dan kalo dinasehati pasti selalu ngeyel”.

Obrolan kita pun terus berlanjut sampai pada akhirnya mataku terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Dia mengeluarkan sebungkus rokok dali dalam tas yang dia bawa.

“Kamu ngerokok?” tanyaku kaget seakan tak percaya.

“Iya, sejak saat itu”.

“Saat itu? Sudah lah, kamu gak usah ngerokok. Aku gak suka melihatmu seperti itu”.

Dia tak menggubris permintaanku. Dia mulai menyulut rokok dan memesan secangkir kopi putih kesukaannya. Ya, kopiku dan kopinya dari dulu memang berbeda warna.

“Kamu masih ingat kan ceritaku beberapa bulan lalu saat kita tak sengaja bertemu disini”.

“Tentang suamimu? Aku masih ingat”.

“Iya, dan sekarang aku dan dia tak lagi bersama. Sejak saat itu aku mulai berteman dengan rokok ini”.

“Jadi rokok itu pelarian dari semua masalah yang kau hadapi?” tanyaku dibarengi dengan rasa kaget seakan tak percaya jika dia sudah bercerai.

“Bisa dibilang seperti itu, aku tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Dengan rokok ini seakan semua masalah dipikiranku menghilang bersama dengan asap yang ku keluarkan”.

“Sudahlah gak usah kau berteman dengan rokok itu, aku benar-benar tak suka melihatnya. Bukankah masih ada aku tuk berbagi cerita denganmu”.

Dia hanya tersenyum dan kembali menghisap rokok dibibirnya dan menikmati kopi putih yang sudah tersaji dihadapnnya. Kemudian dia meneruskan cerita tentang perceraiannya.

“Aku sudah tak kuat lagi bersamanya, setiap hari hatiku sakit melihat kelakuannya. Ku bulatkan niatku tuk bercerai dengannya”.

“Karena masalah perselingkuhannya?”

“Iya, dan dia tak pernah berubah. Dia selalu bermain dibelakangku, mungkin dia sekarang sedang bersama wanita itu” ceritanya dengan air mata yang mulai menetes.

Ku geser kursiku kebelakang dan aku pun mulai pindah tempat disampingnya. Ku belai rambutnya dengan wajahnya yang mulai tertunduk.

“Adin, ku tahu betapa sakitnya hatimu. Aku pun pernah mengalaminya di masa lalu, walau hanya sebatas seorang kekasih bukan suami istri” gumamku dalam hati.

Aku hanya bisa membelai rambutnya dan mencoba menguatkannya.

Tanpa ku sadari aku berkata, “yang lalu biarlah berlalu, masih ada aku disini yang menyayangimu”.

Tangisnya terhenti dan menatap ke wajahku sambil bertanya, “apa maksudmu? Menyayangiku? Sebagai apa?”

“Maafkan aku, memang dari dulu aku sudah menyayangimu. Sejak saat awal kita bertemu, namun tak pernah ku ungkapkan hal itu karena ku tahu hatimu sudah milik orang lain. Sampai saat ini pun rasa itu tak pernah berubah, aku masih menyayangimu”.

Dia hanya tersenyum dan terus memandangku.

“Kenapa kau tersenyum dan memandangku seperti itu?” tanyaku padanya.

“Ceritakan semuanya padaku bagaimana kau bisa menyayangiku” pintanya padaku tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku pun mulai bercerita bagaimana rasa itu datang dengan sendirinya, bagaimana cemburunya hatiku saat ku lihat dia bermesraan dengan kekasihnya, bagaimana kagetnya saat ku dengar darinya saat dia sudah menikah, dan tentang semua yang aku rasakan padanya.

Ku lihat senyumnya tambah berkembang dan tak ada lagi air mata yang menetes di pipinya.

Tak terasa sudah berjam-jam aku dan dia di sini, dan malam pun semakin larut.

“Pulang yuk, udah malam nih. Nanti mata pandamu muncul lagi loh” ajakku tuk pulang dan ku lihat kantuk sudah menghampirinya.

“Aku tak ingin pulang, biarlah mata panda itu muncul lagi. Toh kamu suka kan?” jawabnya sambil tersenyum.

“Tapi kamu udah ngantuk gitu kok, lagian disini sudah mulai ramai dan udah gak nyaman lagi tuk saling bercerita”.

“Yaudah kita pindah saja ke tempat yang tak ramai” jawabnya menolak tuk pulang.

Ku gandeng dia keluar dari cafe itu dan mengajaknya menikmati indahnya langit malam. Dia tinggalkan motornya di parkiran dan naik ke jok belakang motorku. Ku pacu motor dengan perlahan, dia pun mulai memelukku dari belakang sambil menempelkan pipinya di punggungku seakan malam itu dia sangat nyaman bersamaku. Sampai ditempat tujuan, disebuah bukit kecil yang bisa memandang luas ke langit malam dengan berjuta bintang kita duduk bersampingan sambil menikmati indahnya malam itu. Ku beranikan diri tuk memeluknya dari samping dan mencium keningnya. “Ah, alangkah indahnya malam ini. Aku bisa berduaan dengannya, memeluk, dan mencium keningnya”.

Tiba-tiba terdengar suara alarm handphone ku berbunyi, membangunkanku dari mimpiku…

Bukankah Kau tahu, betapa ku sangat menyayanginya?

Apakah ini jawaban untukku, Tuhan? Jawaban untukku yang telah lancang tuk menyayangi kekasih orang.

Tahun lalu ku bisa membunuh rasa seperti ini, namun kenapa ketika dia hadir kembali aku tak kuasa tuk membunuhnya lagi. Kenapa rasa ini semakin menjadi?

Ku akui aku terlalu berani bermain hati, dimana hanya senyum pahit yang kan ku dapat.

Sudah beberapa hari ini aku tak bertemu dengannya. Bukan karena aku tak ingin bertemu, aku hanya ingin dia bisa istirahat tuk memulihkan kondisi tubuhnya yang sedang sakit. Berkali-kali ku minta dia tuk istirahat dan mengurangi jam begadangnya, namun berulang kali pun dia selalu ngeyel dan menolaknya. Selasa lalu aku tertunduk lesu, bersamaan dengan whatsapp yang aku terima darinya. Aku mengajaknya tuk berobat namun dia menolaknya, dan ternyata dia lebih memilih keluar bersama (entah siapa aku tak tahu) tuk membeli esgrim kesukaannya. Aku benar-benar tak ingin melihatnya sakit, namun aku juga benar-benar tak bisa memahami apa yang dia mau. Ku rasa dia hanya ingin bersenang-senang tanpa memperdulikan aku, orang yang menyayanginya.

“Memang aku bukan siapa-siapamu, namun rasa yang ada di hatiku ini membuatku sangat cemburu akan hal itu. Bukankah sudah ku ungkapkan kepadamu jika aku sangat menyayangimu, bukan sebagai teman? Namun kenapa kau tak bisa menjaga perasaanku dengan berbagai kabar yang ku terima darimu”.

Mulai saat itu intensitas bbm, sms, maupun whatsapp dengannya perlahan berkurang. Mungkin karena aku mulai sadar jika tak ada sedikitpun ruang di hatinya untukku. Benar kata mereka “jangan sampai kau tersadar, karena sadar itu menyakitkan”. Dan benar, sadar itu memang sangat menyakitkan. Mungkin memang salahku yang tak bisa menyayanginya seperti yang dia inginkan.

Mulai lelahkah hatiku tuk menyayanginya? Aku tak ingin, namun rasa cemburuku pun semakin menjadi. Sudah berulang kali aku melihatnya pergi dengan lelaki yang dia panggil dengan sebutan “teman”. Ya aku percaya, namun aku tak bisa menyangkal jika aku benar-benar cemburu dan tak bisa ku katakan kepadanya karena aku tak punya hak untuk itu.

Sebuah keadaan yang tak kuduga pun terjadi semalam tadi. Berawal dari dia bertanya di “warung” (tempat biasa aku menghabiskan malam) ramai atau tidak. Ku jawab sepi, karena memang hanya ada aku dan beberapa temanku. Kemudian dia membalas “sek kehipnotis sm suci di tmpt ngopi”. “lagi keluar to?” tanyaku padanya. “iya lagi diluar” balasnya kepadaku. Ah, dia pasti sedang tak sendiri dan perasaanku mengatakan jika dia sedang berdua dengan seorang lelaki tapi entah siapa. Aku hanya bisa berharap jika memang dia sedang berdua, semoga dengan orang yang sebelumnya sudah ku tahu siapa. Beberapa jam kemudian terdengar suara motor datang ke “warung”. Suara motor itu mengalihkan perhatianku dari siaran piala dunia tuk menoleh ke belakang ke arah motor itu berhenti. Helm merah yang tak asing lagi bagiku. Ya, tentu saja dirinya yang datang, bersama seorang lelaki yang sebelumnya tak pernah ku lihat bersamanya. Ternyata harapanku tak seperti kenyataan yang ku lihat. Dan hatiku pun memanas.

Sebenarnya bukan tentang dengan siapa dia datang, mungkin karena aku sudah terbiasa dengan hal tersebut. Namun ada suatu keadaan yang membuatku tersenyum pahit pada diriku sendiri. Keadaan dimana kita tak saling menyapa. Tak sedikitpun dia melihat kearahku, mau ku sapa duluan pun sepertinya tak kan merubah keadaan itu. Keadaan yang terasa hampa. Sepertinya aku sudah tak dianggapnya ada. Betapa perih berada didalam keadaan itu. Sampai saat dia pergi, aku hanya bisa memandangnya hingga tak terlihat tertutup rumah di ujung jalan. Dan aku pun mulai tertunduk.

Selang beberapa menit, mungkin dia sudah pulang ke kos dimana dia tinggal, ku buka twitter dan ku lihat dia berkicau. Semua kicauan yang dia tulis membuatku sakit hati. Ternyata dia memang tak bisa memahami perasaanku. Tak pernah dia memperdulikan rasaku padanya. Aku merasa terbuang seperti tahun lalu, dimana dia mendapatkan teman baru dan mulai menjauh dariku. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Haruskah ku teruskan rasa ini, ataukah aku harus membunuhnya. Tak bisa ku bohongi hatiku karena aku masih menyayanginya. Namun semakin lama aku menyayanginya, semakin banyak pula rasa perih yang ku dapat.

Sekarang aku hanya bisa berharap pada waktu tuk menjawab semua ini…

HARIMAU DAN TOPENG KEPALSUAN

Posted: May 20, 2014 in bebas

Ketika harimau jantan sedang kelaparan, melihat seekor rusa betina berjalan tertatih terseok-seok. Kakinya pincang penuh luka. Bukankah ini mangsa yang lezat? Bukankah mudah tuk ditangkap?

Namun apa yang terjadi? Harimau jantan tertunduk, rasa laparnya menghilang terganti oleh rasa iba. Iba melihat rusa yang kesakitan menahan luka dikakinya. Harimau pun mengurungkan niat tuk memangsa rusa itu. Niat tuk menolong sang rusa ternyata lebih besar dari naluri asli harimau. “Jika aku mendekat tuk menolongnya dengan rupa seperti ini, tentu saja rusa itu akan ketakutan.” gumam sang harimau dalam hati. Harimau pun membuat topeng, topeng yang menjadikan harimau berwujud rusa agar bisa mendekat pada rusa betina yang ingin ditolongnya. Perlahan harimau berjalan mendekati rusa betina. Jantungnya berdebar kencang, harimau pun berhenti sebentar tuk memastikan bahwa apa yang dilakukannya memang benar. “Ya, aku harus menolongnya. Biarlah naluriku menghilang, memang ini yang hatiku katakan. Aku harus menolongnya.” harimau memantapkan niatnya. Kemudian harimau itu kembali berjalan mendekati rusa.

“Kau kenapa? Ku lihat kau berjalan dengan tertatih, apakah aku bisa membantumu?” tanya harimau kepada rusa. “Kau siapa? Tak perlu kau membantuku, aku bisa berjalan sendiri. Aku tak butuh bantuanmu.” jawab sang rusa.

Harimau terkaget dengan jawaban rusa itu. Harimau terdiam dan tertunduk, mulai merasakan sakit dihatinya. Bagaimana tidak, niat baik harimau yang telah bersusah payah membuat topeng untuk menutupi wujud aslinya agar bisa menolong sang rusa ditolak begitu saja. Sang rusa betina pun mulai berjalan tertatih menjauh dari sang harimau yang masih tertunduk. Bukankah harimau telah disakitnya? Bukankah harimau bisa melepas topengnya dan memangsa rusa itu?

Namun apa yang terjadi, sang harimau tersenyum seraya mengikat topengnya semakin erat.